Tuesday, June 26, 2012

terumbu karang

Terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dari endapan padat kalsium karbonat (CaCO3), yang dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (calcareous algae) dan organisme lainnya yang mensekresikan kalsium karbonat (Nybakken 1997).  Menurut Odum (1971) terumbu karang sebagai bagian ekosistem yang dibangun oleh sejumlah biota, baik hewan maupun tumbuhan secara terus menerus mengikat ion kalsium dan karbonat dari air laut yang menghasilkan rangka kapur yang selanjutnya membentuk terumbu.

Karang merupakan nama lain dari ordo Scleractinia yang memiliki jaringan batu kapur yang keras. Karang dapat hidup secara berkoloni maupun soliter. Karang sebagai individu terdiri dari polip (bagian yang lunak) dan kerangka kapur (bagian yang keras). Polip karang mulutnya terletak di bagian atas dan juga berfungsi sebagai anus. Jaringan tubuh karang terdiri dari ektoderm, mesoglea dan endoderm (Gambar 1) (Veron 1986). 

Ektoderm merupakan jaringan terluar yang mempunyai cilia, kantung lendir dan sejumlah nematokis. Mesoglea adalah jaringan yang terletak antara ektoderm dan endoderm, bentuknya seperti jelly. Endoderm merupakan jaringan yang paling dalam dan sebagian besar berisi zooxanthellae (Nybakken 1997).      

Umumnya pada koral pembentuk terumbu terdapat alga bersel satu yang dikenal dengan zooxanthellae yang hidup pada jaringannya. Hubungan simbiosis yang terjadi di diantara keduanya memudahkan bagi koral untuk fokus dalam memproduksi kalsium karbonat dengan baik.  Zooxanthellae merupakan produsen.  Hampir 90% hasil produksi zooxanthellae di transfer menjadi jaringan karang.

Faktor Pembatas Bagi Terumbu Karang  

Ada beberapa faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan terumbu karang.  Pada tingkatan yang minimum pada faktor-faktor ini, biasanya karang tidak akan dapat tumbuh dengan baik.  Faktor ini disebut faktor pembatas.  Nybakken (1997) mencatat ada 6 (enam) faktor pembatas utama bagi terumbu karang: cahaya, suhu, kedalaman, salinitas, sedimentasi dan terakhir udara yang menyebabkan karang tidak dapat tumbuh keatas.  Karang akan mati jika terlalu lama di udara terbuka, sehingga pertumbuhan mereka ke atas terbatas hanya sampai tingkat pasang-surut terendah.

 Syarat utama bagi karang untuk tumbuh dan berkembang secara aktif adalah keberadaan cahaya (Nybakken 1997).  Jika karang tidak mendapat cahaya yang cukup (entah karena meningkatnya kekeruhan air atau meningkatnya pengendapan yang menghalangi cahaya masuk ke dalam kolom air), karang akan berhenti tumbuh atau dapat mati.  Cahaya dibutuhkan dalam proses fotosintesis zooxanthellae dalam karang.  Cahaya juga meningkatkan produksi oksigen, yang akan merangsang metabolisme karang untuk meningkatkan pengendapan kalsium karbonat dan juga pertumbuhan karang itu sendiri.  Karang mensyaratkan kedalaman air dimana intensitas cahaya sedikitnya 1 – 2% dari intensitas yang ada di permukaan.  Ketergantungan karang dengan cahaya juga membatasi kedalaman perairan dimana karang dapat ditemukan.  

Tidak ada spesies karang yang dapat ditemukan tumbuh dengan baik pada perairan dengan kedalaman lebih dari 70 meter, kebanyakan karang tumbuh baik pada perairan yang kedalamannya kurang dari 25 meter (Nybakken 1997).  Faktor pembatas lainnya bagi pertumbuhan karang dan distribusinya adalah suhu.  Terumbu karang umumnya dominan pada wilayah yang berada pada 25o lintang utara hingga 25o lintang selatan dimana suhu perairan umumnya konstan sepanjang tahun (Hoegh-Guldberg 1999).  Nybakken (1997) menyatakan bahwa karang lebih suka pada suhu perairan rata-rata 23 – 25 oC, namun Hoegh-Guldberg (1999) menemukan pula karang dapat hidup pada suhu 18 – 30 oC.



No comments:

Post a Comment