Terumbu karang merupakan suatu ekosistem
yang dibentuk dari endapan padat kalsium karbonat (CaCO3), yang
dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (calcareous algae) dan organisme lainnya
yang mensekresikan kalsium karbonat (Nybakken 1997). Menurut Odum (1971) terumbu karang sebagai
bagian ekosistem yang dibangun oleh sejumlah biota, baik hewan maupun tumbuhan
secara terus menerus mengikat ion kalsium dan karbonat dari air laut yang
menghasilkan rangka kapur yang selanjutnya membentuk terumbu.
Karang
merupakan nama lain dari ordo Scleractinia yang memiliki jaringan batu kapur
yang keras. Karang dapat hidup secara berkoloni maupun soliter.
Karang sebagai individu terdiri dari polip (bagian yang lunak) dan kerangka
kapur (bagian yang keras). Polip karang mulutnya terletak di bagian atas dan
juga berfungsi sebagai anus. Jaringan tubuh karang terdiri dari ektoderm,
mesoglea dan endoderm (Gambar 1) (Veron 1986).
Ektoderm merupakan jaringan terluar yang
mempunyai cilia, kantung lendir dan sejumlah nematokis. Mesoglea adalah
jaringan yang terletak antara ektoderm dan endoderm, bentuknya seperti jelly.
Endoderm merupakan jaringan yang paling dalam dan sebagian besar berisi
zooxanthellae (Nybakken 1997).
Umumnya pada koral pembentuk terumbu
terdapat alga bersel satu yang dikenal dengan zooxanthellae yang hidup pada jaringannya. Hubungan simbiosis yang terjadi di diantara
keduanya memudahkan bagi koral untuk fokus dalam memproduksi kalsium karbonat
dengan baik. Zooxanthellae merupakan produsen.
Hampir 90% hasil produksi zooxanthellae
di transfer menjadi jaringan karang.
Faktor Pembatas Bagi Terumbu Karang
Ada beberapa faktor fisik yang
mempengaruhi pembentukan terumbu karang.
Pada tingkatan yang minimum pada faktor-faktor ini, biasanya karang
tidak akan dapat tumbuh dengan baik.
Faktor ini disebut faktor pembatas. Nybakken (1997) mencatat ada 6 (enam) faktor
pembatas utama bagi terumbu karang: cahaya, suhu, kedalaman, salinitas,
sedimentasi dan terakhir udara yang menyebabkan karang tidak dapat tumbuh
keatas. Karang akan mati jika terlalu
lama di udara terbuka, sehingga pertumbuhan mereka ke atas terbatas hanya
sampai tingkat pasang-surut terendah.
Syarat utama bagi karang untuk tumbuh dan
berkembang secara aktif adalah keberadaan cahaya (Nybakken 1997). Jika karang tidak mendapat cahaya yang cukup
(entah karena meningkatnya kekeruhan air atau meningkatnya pengendapan yang
menghalangi cahaya masuk ke dalam kolom air), karang akan berhenti tumbuh atau
dapat mati. Cahaya dibutuhkan dalam
proses fotosintesis zooxanthellae
dalam karang. Cahaya juga meningkatkan
produksi oksigen, yang akan merangsang metabolisme karang untuk meningkatkan
pengendapan kalsium karbonat dan juga pertumbuhan karang itu sendiri. Karang mensyaratkan kedalaman air dimana
intensitas cahaya sedikitnya 1 – 2% dari intensitas yang ada di permukaan. Ketergantungan karang dengan cahaya juga
membatasi kedalaman perairan dimana karang dapat ditemukan.
Tidak ada spesies karang yang dapat
ditemukan tumbuh dengan baik pada perairan dengan kedalaman lebih dari 70
meter, kebanyakan karang tumbuh baik pada perairan yang kedalamannya kurang
dari 25 meter (Nybakken 1997). Faktor
pembatas lainnya bagi pertumbuhan karang dan distribusinya adalah suhu. Terumbu karang umumnya dominan pada wilayah
yang berada pada 25o lintang utara hingga 25o lintang
selatan dimana suhu perairan umumnya konstan sepanjang tahun (Hoegh-Guldberg
1999). Nybakken (1997) menyatakan bahwa
karang lebih suka pada suhu perairan rata-rata 23 – 25 oC, namun
Hoegh-Guldberg (1999) menemukan pula karang dapat hidup pada suhu 18 – 30 oC.
No comments:
Post a Comment